Mereka menjalani kehidupan di penjara dengan kehidupan keras, dan
menghadapi kekejaman Zionis-Israel, tanpa takut, dan tak pernah mengeluh
dengan kondisi mereka.
Mereka mengerti tentang resiko sebagai pejuang. Mereka mengerti arti
seorang pejuang. Mereka akan menghadapi tantangan-tantangan yang tak
pernah berhenti sepanjang hidupnya. Mereka hanya mengerti tentang
cita-cita : “Hidup mulia, atau mati syahid”.
Mereka terus menguatkan cita-cita yang tertanam dalam hati mereka,
sekalipun mereka berada dalam sangkar Zionis-Israel, yang terkadang
dapat membuat putus asa, bagi siapa saja, yang tidak memiliki alas iman
yang kokoh.Kisah yang sangat mengharukan, seorang pemimpin dan tokoh
pejuang Palestina, Nael Al-Barghouti, yang belum lama dibebaskan oleh
otoritas Israel. Nael bersama dengan sekelompok teman-temannya yang
masih “bujang” (single), mulai berpikir menikah, dan mencari pasangan
yang memenuhi syarat, sebagai upayanya mulai
menjalani hidup baru yang normal, sesudah puluhan tahun usianya
dihabiskan di balik jeruji besi.
“Saya menghabiskan 34 tahun di penjara,” tuturnya Barghouti kepada Al
Arabiya. “Saya bisa memiliki banyak anak selama waktu itu. Tapi ini
takdir kita, dan sekarang saya memulai hidup baru”, tambahnya sambil
tertawa. Siapa yang membayangkan akan dibebaskan oleh Zionis-Israel.
Lebih tiga dekade berada di balik jeruji penjara, yang pekat, tanpa
harapan. Kemudian, Barghouti dibebaskan.
Barghouti menikah dengan seorang tahanan yang baru dibebaskan. Begitu
indahnya kehidupan Barghouti. Sepertinya berakhir penderitaan yang
dijalaninya. Barghouti menemukahn kehidupan baru. Menikah dengan seorang
mantan tahanan. Kisah Barghouti mendorong para tahanan lainnya, yang
masih lajang menikah. Meskipun, mereka sekarang sudah bukan lagi muda,
dan rata-rata usianya hampir sudah lebih setengah abad.
Barghouti ditangkap tahun 1978, dan dijatuhi hukuman penjara seumur
hidup. Barghouti dibebaskan bulan Oktober 2011 bersama dengan 450
tahanan Palestina lainnya, yang merupakan bagian dari kesepakatan
pertukaran tahanan antara Hamas dan Israel, yang ditukar dengan tahanan
Israel Kopral Gilad Shalit. Barghouti adalah seorang, “Tokoh dan
sesepuh tahanan Palestina.”
Abdullah Abu Shalbak masih lajang, ketika ia ditangkap baru berusia 21
tahun, dan ketika dibebaskan sudah melebihi setengah abad usianya, dan
sekarang menikah setelah pembebasannya. Begitu kehidupannya, dan ia
mulai menikmati kehidupan di luar penjara, dan menjalani kehidupan
normal. Mereka menikah sesudah usia menjelang tua. “Saya mendapat rumah
kecil. Saya dan istri tinggal di rumah kecil ini. Saya mencoba membeli
mobil,” katanya kepada Al Arabiya.
Meskipun, mulai menghadapi kehidupan normal, dan menikah, tetapi tidak
mudah menyesuaikan dengan kehidupannya yang baru. Karena, seperti masih
menghadapi penyesuaian, yang tidak mudah dengan kehidupan diluar
penjara, yang sudah dijalani lebih dari tiga dekade. Sekarang, Shalbak
mengakui menghadapi beberapa kendala dalam rehabilitasi dirinya.
“Ketika anda menghabiskan waktu lebih 21 tahun di penjara dan dilepaskan
pada usia hampir 50, anda merasa berada di dunia yang berbeda. Anda
perlu tahu apa yang terjadi di sekitar anda. Keluarga anda akan perlu
waktu meringkas waktu dua dekade, dan hanya dalam beberapa hari hari.
Hal ini sangat menegangkan bagi saya,” katanya.
Meskipun kebingungan berada di dunia yang sama sekali baru, Shalbak
mengakui bahwa dia menikmati, dan mulai “belajar proses kehidupan”,
tuturnya. “Saya belajar sesuatu yang baru setiap saat. Saya berada di
zaman yang berbeda, di mana orang menggunakan hal-hal baru, seperti
ponsel dan komputer. Ada juga generasi baru, di mana saya mengenal dan
belajar banyak dari mereka”, tambahnya. Mereka berada di penjara
Israel, tak mengenal waktu, jarang melihat sinar matahari, dan
sehari-hari hanya melihat lampu listrik.
Tahanan lainnya yang dibebaskan, Othman Musleh, berbicara tentang beban
hidup sejak dibebaskan dari penjara. “Ketika anda berada dalam penjara
kekhawatiran anda jauh lebih besar, karena ancaman dari Israel. Tetapi,
sesudah keluar dari penjara, bagaimana berkomunikasi dengan orang-orang
yang bersama-sama dalam satu sel. Sekarang, saya khawatir tentang semua
teman-teman yang keluar dari penjara Israel, bagaimana mereka menjalani
kehidupan, dan saat dipenjara mereka setiap hari menghadapi pelecehan
oleh tentara pendudukan”, ujarnya.
Musleh, yang memiliki tujuh anak itu, ditangkap ketika ia berusia 30
tahun. “Ketika saya dibebaskan, saya belajar lagi tentang kehidupan,
dan saya memiliki 21 cucu, dan anak saya tertua berumur 40 tahun. Saya
sekarang mencoba memberikan perhatian kepada cucu, merawat cucu, dan
saya tidak bisa memberikan perhatian kepada anak-anak saya”, ujarnya.
Musleh mengatakan bagian paling sulit dari kehidupan barunya adalah
perasaan bahwa ia perlu menebus semua yang tidak bisa terjawab, terutama
dalam kaitannya dengan keluarganya. Bagaimana perasaannya saat
meninggalkan isterinya dan anak-anaknya yang berjumlah tujuh orang itu,
dan sebagian mereka sekarang sudah berkeluarga. Tanpa, saya dapat
memberikan perhatian kepada mereka. Sungguh, sedih perasaan saya, saat
sekarang melihat mereka, dan bertemu dengan mereka.
“Mereka juga berusaha memberikan sikap terbaik kepada saya. Isteri
saya bisa memahami keadaan saya. Selama saya tinggalkan. Itulah buah
perjuangan, yang tidak selamanya manis. Sekarang saya sudah tidak muda
lagi, dan saya sudah berumur 60 tahun, tapi mereka memperlakukan saya
seperti anak yang baru lahir”, ucapnya dengan nada sedih.
Nezar Al-Tamimi yang belum pernah menikmati berjalan di taman kampung
halamannya, sejak pembebasannya. Sementara itu, dia dibebaskan,
kemudian dideportasi ke Tepi Barat, dan sepupunya Ahlam serta tunangan
dideportasi ke Yordania.
Tamimi harus menandatangani dokumen persetujuan untuk dideportasi ke
Yordania, dan mereka sekarang bersiap-siap menikah. Semua tahanan
Palestina yang dibebaskan dalam kesepakatan dengan Shalit, pada Oktober
tahun lalu, menerima gaji bulanan dari Otorita Palestina antara $ 500 –
$ 1.500 dollar, tergantung lamanya masa yang dihabiskan di penjara.
Banyak tahanan yang baru dibebaskan, terutama yang berasal dari Tepi
Barat, menolak bicara tentang kemungkinan melakukan aksi militer
terhadap Israel, karena takut terjadinya penangkapan kembali. Israel
mengancam akan menangkap tahanan yang dibebaskan, yang dituduh menjadi
ancaman keamanan nasional.
Sejauh ini, Israel menangkap lima tahanan yang dibebaskan dalam
kesepakatan dengan Shalit, dan mengancam mereka dan menempatkan dalam
penjara. Sebagian besar dari mereka dijatuhi hukuman penjara seumur
hidup.
Begitulah kehidupan para pejuang Palestina. Mereka terus menjalani
pasang surut dalam kehidupan mereka. Tanpa mereka menyesali atas semua
yang mereka alami.
Mereka sudah memilih jalan hidup, dan mereka bertekad melawan penjajah
Zionis-Israel, serta membebaskan tanah air mereka yang dirampas. Penjara
dan kematian, hanyalah bagian dari pilihan hidup mereka.